Site menu:

Site menu:


Beberapa Kesaksian Sembuh dari TORCH

Ny. Wati Ningsih

BAYIKU CUMA BERTAHAN HIDUP SATU JAM

Saat Wati Ningsih hamil anak pertama, selama empat bulan ia keluar masuk rumah sakit. Mual-mual yang dirasakan, membuat seluruh persendiannya sakit,  ngilu, nyeri dan kaku. Tak pernah terduga, ternyata itu adalah gejala ketidakberesan pada bayi yang  dikandungnya. Lingkar kepala si bayi yang kecil, dan jantungnya yang lemah, membuat cabang bayi itu hanya bertahan hidup selama satu jam. Dengan Aquatreat Therapy  akhirnya Wati dapat hamil dan melahirkan bayi yang sehat.

Kalau mengingat penderitaan yang dirasakan saat hamil pertama, rasanya aku enggan untuk hamil lagi. Masih segar dalam ingatanku, bagaimana tersiksanya masa-masa di awal kehamilan dulu. Baru saja kehamilanku memasuki usia satu bulan, keadaan fisikku sudah ambruk lunglai, sampai terkapar tak berdaya. Sungguh tak kuduga kalau itu merupakan awal dari penderitaan yang amat menyiksa fisik dan kesehatanku hingga beberapa bulan berikutnya.  

SELAMA DUA HARI MUAL DAN MUNTAH YANG BERLEBIHAN

Suatu pagi terasa kondisi fisikku tidak seperti hari-hari biasanya. Begitu terbangun dari tidur, rasa letih menyergap seketika. Namun aku paksakan juga untuk beranjak dari tempat tidur. Langkahku terhuyung-huyung menuju kamar kecil. Belum sempat membasuh muka, aku sudah muntah-muntah. Tubuhku terasa panas-dingin. Agar terasa lebih ringan, seluruh tubuh kubalur dengan minyak angin. Memang setelah itu  ada sedikit perubahan, tubuhku mulai terasa lumayan segar.   

Namun ketika menjelang siang, mual-mualku kambuh lagi diiringi muntah yang berlebihan. Rasanya tak tertahankan lagi,  aku tergolek lemas. Waktu itu seluruh isi perutku habis terkuras. Padahal hari itu aku sama sekali belum menyentuh makanan. Sejak beberapa hari lalu, selera makanku hilang. Padahal aku sudah berusaha membuat makanan kegemaran. Keesokan harinya aku justru semakin sering merasa mual dan berakhir dengan  muntah-muntah. Dalam keadaan seperti itu sekujur tubuhku berkeringat dingin. Bahkan tak jarang berakhir dengan rasa  pusing dan lemas yang luar biasa. Aku sunggguh-sungguh tersiksa.

Begitulah keadaanku selama dua hari. Muntah, pusing dan lemas silih berganti.  Keesokan harinya aku kontrol ke rumah sakit. Sebenarnya aku tak berdaya untuk beranjak dari pembaringan, tapi karena desakan Mas Seno Setiadi, suamiku, akhirnya kupaksakan juga pergi bersamanya. Menurut hasil pemeriksaan  ternyata aku hamil.

Mendengar ucapan dokter tentang kehamilanku, serta-merta hatiku berubah senang, meskipun rasa mual dan muntah masih belum teratasi. Belum apa-apa aku sudah membayangkan akan menjadi seorang ibu dari seorang bocah mungil yang lucu. Berita menggembirakan ini sudah selayaknya kami syukuri, apalagi kami termasuk belum lama menikah.  

Dengan kehamilanku ini, sebagai wanita aku merasa sempurna. Bayang-bayang akan kehadiran si buah hati menjadi kebahagiaan tersendiri yang akhirnya memicu semangat hidupku untuk sehat.   

Siapa sangka kalau kebahagiaan ini  ternyata umurnya tak lebih dari bilangan hari. Sebab selang dua jam setelah minum obat pemberian dokter, mual-mualku kambuh lagi. Perutku bagai diaduk-aduk dan dihempaskan. Keadaanku tidak pernah merasa nyaman. Padahal aku sudah berusaha agar  dapat menelan obat. Masalahnya sejak dulu minum obat menjadi momok yang menakutkan, karena aku selalu kesulitan jika ingin menelan obat.

Rasa mual yang  terus-menerus membuat aku merasa tidak enak badan. Sekujur tubuhku terasa letih. Aku tidak ingin terkapar lunglai di pembaringan, sehingga  sesulit apapun minum obat, tetap aku usahakan. Begitulah keesokan harinya pagi-pagi aku sudah sarapan, agar secepatnya dapat minum obat. Dengan begitu, aku berharap keadaanku bisa lebih membaik dari hari kemarin. Tapi nyatanya tidak sama sekali. Sebab selang dua jam kemudian aku kembali mual-mual. Mungkin inilah resiko bagi wanita yang sedang hamil, sering mual dan pusing, begitu hibur diriku setiap kali mual itu datang.      

Entah kenapa rasa mual dan muntah tak kunjung mereda. Dalam situasi yang semakin tidak nyaman ini, lagi-lagi aku berusaha menghibur diri. Meski pada akhirnya aku pasrah, menerima keadaan yang  tidak menyenangkan ini. Adakalanya menjelang pagi aku sudah diserang  rasa mual, pada hari yang lain rasa mual itu bisa datang siang hari. Yang paling mengganggu jika mualnya terjadi saat aku hendak tidur.  

Sepanjang malam tidurku terganggu. Mulanya kupikir mual dan pusingku akan hilang jika obatnya sudah habis. Ternyata setelah seluruh obat habis, aku bukannya terbebas dari mual, malah mualnya semakin menjadi-jadi. Karena terus- menerus mual, aku jadi bingung harus berbuat apa lagi.

Hari-hari selanjutnya aku berusaha  mengatasi rasa mual tanpa obat. Yang terjadi malah semakin parah. Rasa tak nyaman itu kurasakan sepanjang hari. Fisikku melorot kurus karena tak mampu makan dengan baik lagi. Rasanya aku tak kuat menanggung rasa mual ini, bahkan aku pernah sampai jatuh pingsan.

DIRAWAT DI RUMAH SAKIT

Kondisiku yang lemah tak berdaya membuat aku sering pingsan. Suatu pagi tanpa kusadari aku dibopong ke rumah sakit. Dokter  mengharuskan aku dirawat di rumah sakit. Aku terpaksa diinfus karena mengalami dehidrasi, kurang cairan. Rasa mualku agak mereda. Empat hari kemudian keadaanku sudah lebih membaik. Dokter akhirnya menginjinkan aku pulang setelah keadaanku  pulih, dengan syarat aku harus banyak istirahat dan teratur minum obat.

Beberapa hari setelah pulang dari rumah sakit, ternyata aku masih mual.  Fisikku semakin lemah, hampir tak ada tenaga yang mampu menggerakkan anggota tubuhku. Mulanya kufikir keadaan serupa ini hanya akan berlangsung pada minggu-mingu pertama kehamilan.

Ternyata tidak demikian. Hari berganti bulan, mual pun tak kunjung berakhir. Dalam sehari aku belum pernah terbebas dari rasa mual yang menjengkelkan ini.  Selera makanku sudah hilang sama sekali. Padahal menurut dokter agar janinku dapat tumbuh sehat, aku harus makan teratur. Apa boleh buat saran dokter tidak bisa aku jalani. Hari-hari berikutnya, keadaanku semakin bertambah lemah. Jika berjalan tubuhku terhuyung-huyung seakan tidak ada keseimbangan.  

Keadaan seperti ini membuatku kesal sekaligus sedih. Aku sering menangis sebab tidak sembuh-sembuh juga. Hampir setiap minggu aku kontrol ke klinik bersalin. Dan entah sudah berapa kali aku keluar masuk rumah sakit. Begitu tidak nyamannya diriku sepanjang hari. Pernah saking bosannya dirawat, aku minta jika memang harus diinfus untuk menambah cairan tubuh, hal itu bisa dilakukan di rumah saja. Kebetulan ada  tetangga yang menjadi perawat. Dialah yang merawatku setiap kali aku harus diinfus di rumah.

Suatu hari ketika sedang diinfus, aku sempat pingsan di kamar mandi. Ceritanya, karena tidak ada orang di rumah, aku turun dari tempat tidur menuju kamar  mandi sendiri. Sampai di pintu kamar mandi tiba-tiba kakiku tersandung ember. Aku terpelanting, tubuhku terjerembah di kamar mandi. Untung tidak lama kejadian, ada ponakan datang. Serentak mendengar ada kegaduhan di kamar mandi, ia langsung melongok dan melihat diriku tengah terkapar di lantai kamar mandi. Suamiku yang ketika itu sedang menjaga wartel, buru-buru diapnggil. Semenjak kejadian itu, aku tak pernah lepas dari pengawasan.

Aku beruntung, meski diganggu rasa mual yang tak berkesudahan, kehamilanku tetap bisa dipertahankan. Memasuki usia kehamilan lima bulan, rasa mual-mualnya sudah mulai mereda. Selera makanku mulai timbul. Seperti biasa, tiap bulan aku rutin kontrol ke dokter. Karena mualnya sudah berkurang, keadaan fisikku sudah jauh membaik. Aku jauh lebih kuat. Aku mulai jarang mengeluh sakit. Memasuki usia kehamilan delapan bulan, dokter menganjurkan untuk melakukan USG. Sebagai orang awam, terus terang aku tidak tahu apa itu USG dan apa pula manfaatnya. Tapi karena itu saran dokter, aku menurut saja.

Baru belakangan aku memahami USG gunanya untuk mengetahui keadaan janin di dalam rahim ibunya. Hasil USG-ku ternyata cukup mengkhawatirkan. Aku masih ingat ketika dokter  menjelaskan hasilnya, ia begitu hati-hati sekali. Menurutnya, pada  kepala janin ada yang aneh, terlihat semacam gumpalan yang katanya berupa cairan, lebih jauh dikatakan kondisi jantung si bayi lemah.

Apa yang baru saja kudengar membuat hatiku menjadi sedih. Aku seperti dihantui pikiran buruk. Dokter menganjurkan agar aku tes lab khususnya virus toxo. Dari hasil lab, ternyata aku mengandung virus CMV yang angkanya cukup tinggi. Meskipun perasaan sedih terus menyertai, namun sebagai orang awam aku tidak yakin sepenuhnya dengan ucapan dokter. .

Untuk lebih meyakinkan keadaan janin di dalam rahimku, aku mendatangi dokter yang lain. Setelah dikontrol, apa yang diucapkan dokter yang satu ini jauh berbeda dengan dokter sebelumnya. Katanya tidak ada masalah dengan janinku. Tentu saja aku jadi bingung, tidak tahu pernyataan dokter yang mana yang dapat dipercaya. Walaupun begitu, perkataan dokter tempatku selama ini konsultasi terus menghantui pikiranku. Aku terus-menerus  dibayang-bayangi rasa takut. Aku sungguh khawatir jika bayiku benar-benar lahir cacat.

MENDATANGI PENGOBATAN TORCH

Suatu hari Mas Seno mengikuti acara pengobatan TORCH di televisi. Pada acara itu dijelaskan sudah banyak pasien yang berhasil disembuhkan dari penyakit TORCH dengan meminum Aquatreat Therapy. Apa yang diutarakan di televisi menggugah hati Mas Seno untuk membawaku mencoba melakukan pengobatan alternatif itu. Mas Seno yakin kalau penyakitku dapat sembuh melalui Aquatreat Therapy yang baru saja didengarnya.  Apalagi obatnya berupa cairan, sehingga bisa dengan mudah aku meminumnya.

Mulanya aku sendiri sempat ragu, tetapi karena  Mas Seno tetap mendesak, akhirnya aku turuti juga kemauannya untuk berkonsultasi tentang penyakit TORCH.

Ketika kami mendatangi tempat praktek Pak Juanda, demikian nama pakar yang mampu mengobati virus toxo itu—usia  kandunganku sudah masuk delapan bulan. Kedatangan kami disambut hangat oleh Ibu Bambang, asisten Pak Juanda.  Kami segera  memaparkan kondisi kehamilan yang buruk dan hasil uji darah yang mencemaskan di hadapan Pak Juanda. Kami mencemaskan janin yang telah  memasuki masa kelahiran bulan yang akan datang. Pak Juanda  menganjurkan agar aku segera minum Aquatreat Therapy.

“Seharusnya ini diminum pada awal kehamilan, tapi tidak apa-apa mudah-mudahan saja masih sempat tertolong “ kata Ibu Bambang seusai konsultasi dengan Pak Juanda.

Tanggal 27 Oktober 2003, sepagian perutku terasa mules. Aku curiga jangan-jangan aku  akan melahirkan. Aku cepat-cepat ke dokter. Menjelang sore bayiku lahir. Ketika lahir, bayi ini tidak bergerak sama sekali. Sesuai ucapan dokter, lingkar  kepalanya memang kelihatan kecil, Dokter juga mengatakan jantung bayiku lemah. Menurut dugaan dokter keadaan bayi yang lahir dalam keadaan seperti bayiku ini,  usianya pendek. Benar kata dokter, satu jam kemudian, bayi yang masih merah itu  menghembuskan nafasnya yang terakhir. Aku sedih bukan main. Harapanku menjadi seorang ibu seketika sirna.

MELANJUTKAN MINUM AQUATREAT THERAPY  

ImageKesedihan tak kunjung hilang dari keseharianku. Aku sadar, aku tak boleh terus hanyut dalam  sesalan. Aku harus mengobati diriku agar bebas dari virus. Aku melanjutkan minum Aquatreat Therapy, hingga virus CMV dalam tubuhku negatif. Ketika itu aku dianjurkan untuk melakukan kembali program hamil. Terus terang aku masih takut jika teringat bagaimana menderitanya aku di awal-awal kehamilan.

Yakin akan pertolongan Allah, aku akhirnya menyetujui program hamil. Ternyata tiga bulan kemudian aku sudah hamil. Selama hamil aku terus rutin minum Aquatreat Therapy. Alhamdullilah selama ngidam aku tak mengalami banyak keluhan. Hanya sesekali aku mual. Sungguh suatu mujizat yang luar biasa. Keadaanku bisa sehat selama kehamilan anakku yang kedua ini.

Pada tanggal 24 Oktober 2004, Alhamdullilah, Allah mengabulkan permohonan doa kami berdua. Kelahiran bayi kami yang kedua ini bertepatan dengan datangnya bulan Ramadhan. Meski kelahirannya secara caesar, Reihan Risang Ramadhan tumbuh menjadi anak yang sehat. Dengan kehadiran Reihan, kami berterima kasih kepada Pak Juanda yang telah mengobati penyakitku hingga sembuh dan kini kami dikaruniai anak yang sehat.


I Made Sujarna & Ni Made Dewi Saraswati

MENDAPAT ANAK MELALUI PERJUANGAN YANG PANJANG

ImageKegelisahan belum mempunyai anak, membuat perasaan istriku sensitif, emosional, resah dan menutup diri. Dua kali Dewi keguguran, dan sudah 10 macam jenis pengobatan dilakukan, namun kehamilan tak kunjung datang. Harapan mulai menjadi kenyataan, setelah Dewi kubawa berobat pada Prof. Juanda. Kini kami bahagia dengan kehadiran Ni Luh Hita Gauri.

Tak dapat kami lupakan pengalaman pahit kehidupan, saat kami berjuang untuk memperoleh keturunan. Hari-hari indah yang kami nikmati sepanjang bulan madu di awal perkawinan, telah berubah menjadi hari-hari yang di rundung kepedihan. Keceriaan mulai pudar dari wajah Dewi istriku. Rona kebahagiaan hampir sirna, ketika 3 tahun masa perkawinan,  kami tak kunjung dikaruniai anak. Padahal dokter spesialis kandungan yang kami datangi untuk konsultasi, menyatakan rahim Dewi sehat. Tapi mana buktinya? Istriku semakin stres dan mengurung diri,  tidak mau lagi bersosialisasi di tengah keluarga dan masyarakat

Aku memahami perasaannya. Bila kami datang ke pesta perkawinan keluarga, memang yang ditanya selalu masalah anak. Saat aku membawanya ke kampungku di Singaraja menghadiri pesta kawin atau ngaben, pertanyaan keluarga selalu klise. “Belum juga punya anak? Ngapain kerja keras kalau tak punya anak?”. Istriku merasa menjadi bahan gunjingan. Merasa dicemooh dan dilecehkan. Lama-lama Dewi tak mau lagi pulang kampung, tak ingin berada di tengah keluarga besar, atau dia kusembunyikan di rumah, dan tak kuajak ke pesta-pesta. Cukup aku yang datang sendiri.

Sebagai suami aku tak kalah stres. Aku merasa bersalah, karena dulu di tahun 1997, Dewi pernah hamil dan terpaksa melakukan abortus. Aku menyesali keputusanku. Saat itu  aku berfikir, sebagai tulang punggung keluarga, dengan 4 orang adik, aku belum mampu berumah tangga. Apalagi ibuku berpesan, jangan menikah sebelum adik-adik tamat sekolah. Maka kusadari kemarahan Dewi padaklu tak terkatakan. Secara psikologis ia menyimpan kemarahan. Namun aku janji,  tidak akan menikah lagi kalau sampai Dewi tidak memberi keturunan. Istriku tampak tenang dengan janjiku, kami terus berupaya dengan seluruh daya untuk mendapat keturunan.

BEROBAT MEDIS, SPRITUAL DAN TRADISIONAL

Tahun 2000 kami menikah. Keinginan untuk cepat punya momongan membuat kami selalu memupuk harapan. Telah enam bulan berlalu, namun impian kami tak juga terwujud. Menginjak bulan ke 8, menstruasi Dewi terhenti, kebahagiaan terasa memercik dalam rumah tangga kami, namun cuma beberapa minggu, janin di rahimnya gugur lagi.

Kejadian pahit itu, membuat aku lebih serius untuk konsultasi ke Dokter. Dokter spesialis kandungan kembali memeriksa Dewi dengan teliti, minum obat penyubur rahim, sampai hubungan suami istri pun diatur sesuai masa kesuburan. Namun sampai 3 bulan, Dewi tak kunjung hamil. Spermaku bagus. Kondisi rahim Dewi pun baik. Akhirnya dokter menyerah, angkat tangan. “Tidak perlu berobat lagi, pergi saja ke pura untuk sembahyang, mohon pada Sang Hyang, nanti akan dikabulkan,” ucap dokter Wardiana.

Tidak percaya dengan dokter yang satu, kami ke dokter yang lain, namun diagnosa dokter tetap sama. Akhirnya kuputuskan untuk mencoba pengobatan alternatif. Yang pertama kukunjungi adalah ahli pijat dari Jawa. Selama 8 bulan istriku taat untuk di pijat. Katanya, kandungan lemak di rahim istriku  yang membuat Dewi sulit hamil. Namun 8 bulan menjalani terapi menjadi sia-sia karena Dewi tak kunjung hamil.

Kami pindah berobat ke Shinshe di Sesetan. Dewi harus minum obat yang bulat-bulat seperti kotoran kambing. Hubungan intim kamipun diatur, tetapi setelah beberapa bulan nihil, tak ada hasilnya. Selanjutnya kami memenuhi saran tetangga yang telah 4 tahun kawin, berhasil punya anak setelah di pijat di Buleleng.

Selama 3 bulan, 2 kali seminggu ku antar Dewi ke Buleleng untuk pijat. Namun lewat 3 bulan, tak ada tanda-tanda yang akan membuat Dewi positif hamil. Dewi bosan dan tak mau kembali lagi.Untuk ketenangan batin dan melenyapkan stres, kami ikut meditasi dengan kakak, di bimbing oleh Bapak Merta Ade. Kami rasakan memang, stres berkurang, hati menjadi lebih lapang dan Dewi tak lagi menangis saat ditanya belum punya anak.

Masih banyak pengobatan alternatif yang kami tempuh, namun semua sia-sia belaka. Akhirnya aku datang pada guru spiritual Bhagawan Sri Satya Sai Baba. Bulan Oktober 2002, aku mulai konsultasi pada Sai Baba.  Beliau menyarankan agar kami pergi ke India, mengunjungi tempat-tempat suci untuk memohon pada yang maha kuasa agar keinginan punya anak dapat terwujud. Tak lama kami berfikir menimbang keberangkatan yang memerlukan biaya yang cukup besar ini. Namun  anak adalah segalanya dalam hidup kami, kalau materi masih mudah dicari.

BERANGKAT KE INDIA

Penuh harapan dan cita-cita aku dan Dewi segera berangkat ke India.  Kami melakukan meditasi di sebuah pura di atas sungai Gangga. Pura Mangsa Dewi, yang dipuja Dewi Durga. Aku dan Dewi mengikatkan benang di salah satu pohon pemenuh keinginan. Kelak kalau keinginan punya anak berhasil, aku dan Dewi harus kembali lagi untuk membuka benang itu.

Selama  di India, kami memanfaatkan waktu ke tempat-tempat suci, dimana doa seringkali dikabulkan. Tak ada rasa lelah dan penat, penuh semangat dan harapan kami muarakan semua impian hidup kami pada Sang Maha Pencipta, berharap cita-cita kami memiliki keturunan dapat dikabulkan.

Pulang dari India, perasaan kami jauh lebih tenang dan nyaman. Pamanku menyarankan, agar kami juga mohon di pura keluarga, minta maaf pada leluhur, mungkin ada kesalahan-kesalahan terdahulu yang kami abaikan. Segera kami membuat Banten atau sesaji untuk ritual, setelah itu rasanya perasaan kami semakin tenang saja. Seolah dibukakan jalan untuk memperoleh solusi, seorang teman lama yang sudah berulang kali menyarankan untuk konsultasi ke Prof. Juanda, lagi-lagi menelepon dan memaksa untuk datang konsultasi ke Prof Juanda. Sudah lama ia memberi informasi, mengajak, menelepon, sms, namun selama ini aku tidak tergugah,  apalagi Dewi  istriku, tidak percaya lagi pada pengobatan alternatif. Dewi menutup diri dan sudah putus asa untuk berobat. “Ah, berobat di mana saja sama, kalau Tuhan mau kasih, nanti juga hamil,” katanya menolak.    

Beruntung suatu hari saat di Salon, ada majalah yang membahas tentang TORCH.  Kusuruh Dewi membacanya.  Ia mulai terpikat untuk datang pada Pak Juanda. Aku semakin terpacu dan penuh semangat mengajaknya. Segera kutelepon Dewa, teman yang membantu di klinik Prof Juanda, memberitahukan kami akan datang berkonsultasi. Bertemu Pak Juanda,  secara psikologis kami termotivasi. Beliau menyuruh kami ke laboratorium untuk memeriksa TORCH (Toxo, Rubella, CMV dan Herpes). Ternyata Dewi mengidap Rubella dan CMV. Saat datang memperlihatkan hasil laboratorium, Pak Juanda berkata, “Kamu beruntung belum punya anak, sebab  kalau sempat punya anak, pasti anaknya cacat.”

Saat itu rasa sesal, marah dan putusasa seakan lenyap seketika. Kami mulai menyemai harapan baru, berobat dengan Pak Juanda. Dengan telaten selama 6 bulan Dewi minum Aquatreat Therapy, ramuan Pak Juanda, yang harus diminum setiap pagi saat perut kosong. Aku menjadi suami yang disiplin dan tertib menyediakan Aquatreat Therapy yang di campur madu, untuk istriku. Aku melayaninya bagai seorang ratu.

Setelah 6 bulan lewat, Dewi kembali  menjalani tes darah di laboratorium. Hasilnya Rubella dan CMV yang mengidap di tubuhnya  tinggal tersisa satu.  Prof. Juanda menyatakan kami aman memasuki program kehamilan. Penuh harapan dan semangat kami yakin betul, kehamilan pasti datang dan kami akan punya anak. Pesan Pak Juanda, kalau hamil silakan ke medis, tetapi selama hamil tetap harus minum Aquatreat Therapy ramuannya.

Namun setelah 4 bulan berlalu, ternyata Dewi tidak hamil juga, Dewi mulai putus asa lagi. “Tuh kan.., gak hamil-hamil. Bener kan... sudah kubilang, gak mungkin hamil,” ucap Dewi kesal. Aku menghiburnya, membawa jalan-jalan ke Lombok untuk ketenangan hatinya.

Hanya beberapa bulan setelah liburan itu, Dewi telat menstruasi. Malamnya, kami membeli test pack. Pagi keesokan harinya Dewi membangunkan tidurku.

“Made....Made.... lihat positif!! Masa sih saya hamil,” katanya tak percaya. Sorenya kami ke dokter, memang positif. Seperti mendapat gunung emas, kebahagiaan kami sungguh tak terlukiskan. Masa-masa hamil, Dewi kerapkali datang ke klinik Pak Juanda, di sebuah hotel di Denpasar, untuk memberi motivasi kepada ibu-ibu muda yang sulit hamil. Dengan kebahagiaan Dewi menyemai harapan pada ibu-ibu yang tengah gelisah karena tak kunjung mendapat anak.

BAYI YANG SEHAT DAN NORMAL

ImageHari kelahiran yang ditunggu, akhirnya tiba juga. Dewi melahirkan dengan caesar. Kecemasan tampak luar biasa,  ia trauma anaknya akan cacat. “Made hitung jarinya apa lengkap? Made perhatikan bentuk kepalanya, apa normal? Anggota tubuhnya?” Serangkaian panjang pertanyaan meluncur dari bibir  Dewi yang diliputi kecemasan. Aku mengatakan semuanya normal, karena baru pada hari kedua ia bisa melihat bayinya.

Empat tahun kami menunggu kehadirannya. Bayi mungil yang lahir 19 September 2004 ini diberi nama Ni luh Hita Gauri. Ia tampak sehat dengan berat 4 kg dan panjang 50 cm. Aku langsung menelepon Pak Juanda mengabarkan Dewi telah melahirkan dengan selamat.

Banyak hikmah yang kuperoleh dari peristiwa panjang dan perjuangan kami memperoleh anak. Ada lima hal yang selalu kuingat. Di antaranya kami pernah mengambil anak kakak yang kuasuh seperti anak sendiri. Sampai Dewi melahirkan, keponakan yang sudah berusia 3 setengah tahun itu kembali ke orang tuanya. Kalau di Jawa dikenal dengan mancing anak. Kemudian kami melakukan meditasi, lalu mengikuti berbagai pengobatan dengan pijat tradisional.

Selanjutnya yang paling penting adalah mengikuti program pengobatan TORCH dari Pak Juanda, dan terakhir melakukan upacara sesuai dengan keyakinan kami orang Bali. Setelah kelahiran Ni Luh Hita gauri bulan September tahun 2004, kami kembali ke India dengan membawa si kecil. Kami harus melakukan melakukan sembahyang di Pura Manga Dewa di atas sungai Gangga. Kami mensyukuri anugerah terbesar dalam hidup kami, karena memiliki anak. Kedatangan kami kembali ke India adalah untuk membuka benang yang kami ikat di pohon pemenuh keinginan. Ini adalah kebahagiaan kami, perjuangan panjang yang kami lakukan telah berhasil.

Terima kasih kepada Sang Maha Pencipta yang telah mengabulkan harapan kami melalui Pak Juanda. Seperti yang selalu di katakan oleh Pak Juanda, “Saya menolong atas izin Allah, saya membantu pasien dengan pertolongan Allah.


Dua Kali Keguguran Bisa Punya Anak
(Ibu Matahari Permata Ningrat)

Karena penginnya mempunyai anak cepat-cepat maka begitu aku menikah pada bulan Desember 1998 dengan mas Willy, nama lengkapku adalah ibu Matahari Permata Ningrat, langsung tidak mengikuti program KB. Tiga bulan kemudian aku dinyatakan hamil, betapa bahagianya aku dan mas Willy waktu itu. Kabar kehamilanku itu juga sempat terdengar oleh pihak keluarga mas Willy dan keluargaku.

Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama karena usia kandunganku hanya bertahan 2 bulan dan aku mengalami keguguran. Betapa kecewanya aku dan mas Willy waktu itu, angan-angan untuk mempunyai anak tidak kesampaian. Setelah aku periksa ke dokter diperoleh informasi karena kandunganku lemah.

Lima bulan kemudian aku hamil lagi untuk yang kedua kalinya, namun ada rasa kehawatiran akan terjadinya keguguran lagi. Untuk menghindari resiko tersebut maka aku putuskan untuk keluar tidak bekerja. Meskipun sudah tidak banyak kegiatan toh kekhawatiran itu datang juga. Aku keguguran lagi dan dikuretase lagi untuk kedua kalinya, betapa sakitnya waktu itu.

Setelah aku dua kali keguguran, atas saran dokter kandungan aku disuruh untuk uji lab siapa tahu ada penyakit TORCH (Toxo, Rubella, CMV dan Herves). Aku berdua juga tambah bingung, apa itu TORCH dan kenapa bisa membuatku keguguran? Hasil uji lab, ternyata aku positif terkena TORCH. Mulailah aku berobat ke dokter untuk menghilangkan TORCH dalam tubuhku. Berbagai dokter kandungan dan rumah sakit yang dirasa bisa mengobati penyakit ini aku datangi, namun hasil tidak ada, hingga aku divonis tidak bisa punya anak. Waktu itu aku sedih sekali. Dokter juga mengatakan bahwa medis hingga saat ini tidak bisa mengobati TORCH dengan tuntas.

Dokter kemudian menyarankanku untuk menjalani terapi dengan minum obat setiap hari. Selama berbulan-bulan, minimal 3 butir obat harus kuminum secara teratur. Aku sempat pesimis karena sudah kuturuti semua saran dokter, toh tetap tak membuahkan hasil. Padahal aku baru boleh hamil kembali sampai titernya dinyatakan normal atau “aman” untuk hamil. Tapi sampai kapan, dong, harus bersabar menunggu? Untungnya 7 bulan kemudian aku dinyatakan positif hamil lagi.

Terlebih dokter pun memberi lampu hijau untuk meneruskan kehamilan yang kudambakan ini. Kami sangat senang menerima kabar seperti ini, hingga setiap kali periksa aku memaksanakan diri untuk mengamati perkembangan janinku lewat monitor USG. Sebetulnya enggak ada keharusan seperti itu, sih, tapi lantaran aku betul-betul menikmati perkembangan janinku dari hari ke hari. Toh menurut kerabat dekat yang berprofesi dokter, USG tak berdampak buruk pada kesehatan, kok.

Sayangnya, pada pemeriksaan rutin di bulan ke-4, musibah yang pernah 2 kali menimpaku kembali harus kami hadapi. Sewaktu hendak dimonitor lewat pemeriksaan USG, janinku tak seperti biasanya, selain tak bergerak seperti biasanya, Enggak ada firasat atau pertanda sebelumnya. Cuma aku sempat bingung sewaktu dokter menjelaskan bahwa seharusnya gerakan bayi sudah mulai bisa dirasakan. Tapi, aku kok enggak merasakannya sama sekali. Bahkan perutku terasa sakit dan nyeri luar biasa seperti mau mens. Tapi aku enggak tahu keluhan apa itu. Kupikir, sih, Cuma capek dan butuh istirahat saja.

Setelah diadakan pemeriksaan lebih seksama ternyata janinku masih ada, namun mengalami penyusutan atau mengecil. Dalam arti, secara medis janinku tak berkembang semestinya. Untuk ketiga kalinya aku harus kembali dikuret. Sedih sekali rasanya harus kembali kehilangan bayi yang sangat kami dambakan kehadirannya. Bayangkan, sebagai wanita aku telah berulang kali, merasakan bagaimana bahagianya menjadi calon ibu. Namun berulang kali pula, aku harus merelakan kebahagiaan itu tercabut. Sungguh, sakit lahir batin.

Rasa percaya diriku benar-benar ambruk. Dukungan/penghiburan dari suami keluarga, maupun kerabat terdekat pun seolah masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Teman-temanku bilang, sih, tampangku saat itu kusut banget.

Mencoba pengobatan alternatif

Setelah kejadian gugur kandungan itu, kembali aku harus menjalani pemeriksaan TORCH. Sementara hasilnya justru membuatku semakin berkencil hati karena kali ini titernya justru lebih tinggi dari pemerikaan sebelumnya. Sayangnya, aku enggak sempat tanyakan ke dokter mengapa bisa begitu. Pokoknya, enggak kepikir ke situ, deh. Aku betul-betul sudah hopeless, kok, enggak sembuh-sembuh, sih, penyakitku? Oleh dokter yang berbeda kali ini pun aku diharuskan menjalani terapi obat-obatan. Tapi berapa lama lagi? Rasanya aku sudah tak sabar menungu kehadiran si kecil.

Di saat depresi/limbung seperti itu, kebetulan ada seorang teman yang menginformasikan tentang seorang ahli pengobatan alternatif. Kabarnya ia dapat menyembuhkan penyakit yang berkaitan dengan TORCH seperti yang kuderita ini. Semula aku ragu dan setengah tidak percaya. Namun karena si ahli pengobatan alternatif ini kebetulan bermukim di kota tempat tinggalku, kudatangi juga. Tentu saja diiringi niat kuat untuk mendapatkan buah hati.

Tak dinyana, sebulan menjalani terapi, aku hamil. Senang tentu saja, walaupun tetap kebingunan. Bagaimana ini? Bukankah seharusnya aku belum boleh hamil dulu. Tapi tetap kujalani terapi pengobatannya berupa ramuan yang harus kuminum setiap hari. Sementara menjalani terapi alternatif ini, kuputuskan untuk tidak melanjutkan terapi medisku. Mungkin karena aku sudah kecil hati, buang uang dan waktu, tapi tak ada perbaikan berarti.

Hanya saja ahli pengobatan terapi ini menganjurkan untuk tetap melakukan pemeriksaan antenatal seperti halnya ibu-ibu hamil lainnya. Dari pemeriksaan rutin aku mendapat vitamin dan obat penguat rahim sambil tetap rutin memantau kehamilan lewat USG, tiap bulan. Terus terang aku sempat ganti dokter kandungan, lo. Sengaja kupilih yang tidak tahu riwayat penyakitku. Memang, sih, dokter ini menanyakan macam-macam, tapi aku terpaksa menyembunyikannya. Terpaksa kulakukan itu karena khawatir dokter memaksaku menghentikan pengobatan alternatif yang sedang kujalani. Menurut dokter, sih, kondisiku sehat atau baik-baik saja. Sering bepergian jauh menempuh jarak Bogor-Bandung pun enggak masalah. Sampai-sampai aku sempat heran juga, kok, bisa setegar ini padahal sewaktu kehamilan-kehamilan terdahulu boleh dibilang, selalu ambruk. Bahkan pada kehamilan ketiga malah sempat bedrest total.

Aku enggak tahu persis ramuan apa yang diberikan si ahli pengobatan alternatif ini. Katanya, sih ramuan dari akar-akaran. Pasien yang datang enggak perlu repot-repot merebut atau meracik ramuan yang dikemas dalam botol aqua besar dan dianjurkan disimpan di kulkas. Ramuan inilah yang harus diminum setiap pagi sebelum masuk makanan apa-apa. Tak perlu banyak-banyak cukup sekitar 120 ml dicampur madu sesendok makan.

Kalau ngingat rasa aromanya yang kecut-kecut mirip bau kaus kaki bekas, sih. Rasanya enggak ketelan juga. Tapi demi kebaikan si kecil, ayo aja, deh. Begitu pikirku. Toh harganya relatif hemat karena sebotol besar rata-rata bisa digunakan untuk sekitar 2 minggu. Hingga bila dihitung-hitung sebulan hanya perlu menyediakan dana sekitar Rp 500 ribu. Selama menjalani pengobatan itu, setiap 2-3 bulan aku diam-diam memeriksakan darahku ke laboratorium. Hasilnya sungguh menakjubkan: ada penurunan drastis pada angka-angka pemeriksaan. Hasilnya ini tentu saja membuatku makin semangat menjalani terapinya. Hingga beberapa bulan menjelang persalinan kadar toksoku negatif.

Di saat terakhir menjelang persalinan akhirnya aku buka kartu pada dokter yang tentu saja terkaget-kaget dan sempat khawatir kalau ada apa-apa dengan persalinanku. Akhirnya berkat permohonan yang seolah tak pernah habis kupanjatkan ke Yang Maha Kuasa, kekalutanku bakal menemui berbagai kesulitan sepanjang kehamilan atau stress akan risiko memiliki anak yang tak normal, ternyata tidak terbukti. Tanggal 10 Februari 2001 si kecil lahir dengan bantuan vakum. Ia kami beri nama Daffa Ageng Muhammad Jauzza & pada bulan Januari' tanggal 2 tahun 2003 telah lahir anak ke dua di beri nama Arkan Adia Akbar.

Alhamdulillah, sejauh ini ia sehat-sehat saja, tuh. Sesekali batuk pilek, kuanggap lumrah, tapi itu pun relatif jarang sekali, kok. Aku sendiri yang merawatnya sampai sekarang, ia masih mendapatkan ASI. Ia pun bukan tipe rewel atau melankolis padahal dulu aku gampang sekali bersedih.

Pengakuan di atas disampaikan oleh Ny Matahari PN Willi, ibunda dari Daffa Ageng Muhammad Jauzza dan Arkan Adia Akbar sudah dimuat di Tabloid Nakita terbitan Jakarta beberapa waktu lalu.


Mata Kabur Bisa Sembuh
(Drs D Agus Harjito, Msi)

Tiba-tiba saja mata kiriku terasa sakit, waktu itu sekitar bulan Juni 2000, untuk melihat saja kabur apalagi untuk menyetir sendiri. Nama lengkapku adalah Drs D Agus Harjito, Msi, sehari-hari sebagai dosen UII Jogjakarta. Kegiatan mengajar yang selama ini aku lakukan terpaksa banyak mengalami gangguan yang sangat mengganjal. Boro-boro untuk membaca, melihat tulisan saja hurufnya sudah amburadul. Aku juga tidak tahu kenapa tiba-tiba saja mataku tersebut sakit. Padahal sebelumnya tidak pernah sakit. Mungkinkah mataku kumat lagi setelah sekitar tahun 1996 lalu mengalami kecelakaan yang mengakibatkan otakku luka, atau karena sebab lain?. Memang setelah mengalami kecelakaan ketika itu aku ditabrak sepeda motor, sempat opname di rumah sakit sekitar setengah bulan. Namun alhamdulillah luka yang ada di kepala bisa sembuh. Untuk beberapa waktu tidak pernah merasakan sakit.

Untuk memastikan sakit yang aku derita tersebut, aku mencoba untuk memeriksakan diri ke dokter mata dan ahli syaraf. Setelah berobat diberi obat-obatan untuk diminum sesuai petunjuk yang ada. Namun meskipun sudah meminum obat-obatan tersebut, sakitku juga belum kunjung sembuh malahan tambah hari tambah parah. Karena setiap kali aku periksa ke dokter tidak pernah ada kemajuan, maka setelah periksa terakhir disarankan untuk periksa virus Toxo. “Siapa tahu kalau bapak terkena virus yang sedang ngetren ini,” kata dokter waktu itu kepadaku.

Saran dokter tersebut awalnya tidak aku gubris sama sekali, aku juga agak ragu tentang penyakit Toxo tersebut. Namun setelah dipikir-pikir beberapa hari dan saking inginnya sembuh dari penyakit tersebut, akhirnya aku putuskan untuk periksa ke laboratorium tersebut. Setelah aku cek ke dokter, astaga, ternyata aku terkena CMV sebanyak kalau tidak salah 312, waktu itu sekitar bulan Juli 2000. Untuk mengobati penyakit tersebut aku diberi obat, aku lupa namanya, yang pasti harga obat tersebut sekali membeli obat di apotek biayanya sekitar RP 700 ribu. Meskipun harganya sangat mahal untuk ukuranku namun karena ingin sembuh, akhirnya obat tersebut aku beli juga.

Mengkonsumsi obat yang mahal inipun ternyata belum juga membawa manfaat yang nyata terhadap perkembangan penyakitku tersebut. Hingga akhirnya sampai sekitar bulan September 2000, lewat teman istriku disarankan untuk mencoba menjalani pengobatan alternatif pak Juanda. Kebetulan anak istriku juga sedang menjalani terapi pengobatan alternatif tersebut.

Disisi lain, penyakitku semakin parah saja, sebelumnya hanya kepala pusing sedikit, penglihatan mata agak kabur, sekarang sakitnya bisa dua kali lipat. Sehari bisa berkali-kali kumat sakit kepalaku, ataupun mataku. Mataku kalau untuk melihat sinar sangat silau dan tidak bisa jelas, untuk membaca kepala ini rasanya mau pecah, mataku juga seakan mau keluar. Pokoknya sakitnya sudah tidak bisa dibayangkan sebelumnya. Dengan kenyataan ini, maka aku waktu itu sudah tidak bisa menyetir mobil sendiri. Kemana-mana harus ada yang mau mengantar, namun beruntunglah ternyata istriku, Esti Wahyuningsih (39) dengan tekunnya membantu dan mendampingiku kemana aku pergi. Istriku dengan setianya menyetir mengarahkan, mendorong agar aku bisa tatag (tabah) dalam menghadapi cobaan ini.

Malahan pada waktu itu, bukan saja kepalaku pusing, mata kiriku juga kabur, namun sudah masuk ke perutku. Setiap kali aku isi perut ini sepertinya tidak mau diajak kompromi lagi. Keadaan ini sudah berlangsung sekitar sebulan lamanya. Dalam keadaan seperti ini aku hanya bisa pasrah kepada Allah. Pekerjaan sebagai dosen terpaksa aku tinggalkan beberapa saat. Ibaratnya aku sudah jadi seorang pensiunan, yang hanya tinggal di rumah.

Karena tidak mengajar itulah, aku menjalani pengobatan di rumah saja. Kalau pas tidak kumat, sepertinya tidak masalah, namun kalau pas kumat, sakitnya minta ampun. Biasanya kalau pagi hari aku bisa melaksanakan aktifitas sehari-hari khususnya yang ringan-ringan seperti nyapu halaman, nyapu rumah dll. Pokoknya seperti orang yang sudah pensiun, namun kalau pas kumat, rasanya bukan main. Bahkan pada waktu itu mata ini sudah tidak bisa untuk melihat, barang yang dilihat sudah buyar dan kabur. Akupun sempat ketergantungan kepada obat.

Untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, maka aku memputuskan untuk mengarahkan anak-anakku bisa hidup mandiri. Meskipun masih sangat dini, namun keputusanku tetap aku jalankan. Dengan mandiri tersebut, mudah-mudahan nanti hidupnya tidak menggantungkan terlalu banyak dengan orang tua. Seperti untuk sholat saja, anakku yang pertam aku latih untuk menjadi imam. Sedangkan anakku yang kedua dan ketiga supaya mengikuti apa yang dijalankan oleh anakku yang pertama tersebut. Alhamdulillah anak-anakku juga tidak rewel dan sepertinya mengerti kalau aku sebagai bapaknya sedang terkena penyakit.

Karena penginnya untuk sembuh aku mencoba mengkonsumsi obat-obatan yang untuk hitungan orang Jawa termasuk sangat mahal. Coba bayangkan setiap hatinya obat yang harus aku minum setiap minum harnganya mencapai Rp 18 ribu padahal dalam sehari minum 3 kali, berarti biaya yang dikeluarkan sebesar Rp 75.000.

Karena keadaan diriku yang semakin parah itulah, maka aku memutuskan untuk mencoba pengobatan alternatif. Padahal aku sendiri sebelumnya kurang yakin dengan keampuhan penyembuhan alternatif tersebut, apalagi bila dilihat secara akal sehat, sepertinya penyembuhan alternatif hanya isapan jempol belaka. Aku agak ragu juga apa benar, ramuan pak Juanda bisa menyembuhkan penyakitku tersebut?

Untuk memutuskan mengikuti terapi ke pak Juanda, terus terang saja aku membutuhkan waktu sebulan lamanya. Padahal dalam kurun waktu sebulan tersebut, penyakitku sudah sangat parah dan obat-obatan sudah tidak ada yang mampu untuk mengobati penyakitku tersebut. Aku masih ingat betul, waktu itu aku malah sudah diisolasi oleh pihak keluargaku. Aku dipisahkan dari seluruh keluargaku. Ayahku menyuruhku untuk menempati lantai dua, sedangkan anak dan istriku, serta orang tuaku menempati lantai satu. Ini dilakukan karena melihat kondisi badanku yang sudah sangat payah, jangan sampai anak dan istriku ataupun orang tuaku tertular penyakit yang memang waktu itu masih misterius tersebut.

Setelah sebulan dalam perenungan tersebut, akhirnya aku putuskan untuk mencoba. Selama ini mengkonsumsi obat dari medis namun tidak ada hasilnya. Oleh karena itu tidak ada salahnya kalau aku mencoba pengobatan alternatif pak Juanda. Anak teman istriku saja bisa disembuhkan dari terapi tersebut. Mudah-mudahan Allah juga menyembuhkan penyakitku tersebut lewat perantaraan pak Juanda.

Setelah mantap, aku bertemu pak Juanda, dan mengatakan maksud kedatanganku, bahwa aku ingin berobat penyakit Toxo. Oleh pak Juanda langsung disarankan untuk mengikuti terapi penyembuhan dengan jangka waktu sekitar tiga bulan pertama. Jelasnya selama tiga bulan aku disuruh meminum ramu-ramuan dari pak Juanda. Demi kesembuhan penyakitku tersebut maka aku langsung setuju saja. Bahkan pak Juanda menyarankan untuk menghentikan meminum obat-obatan dari medis. Periksa tetap di laksanakan, namun untuk obatnya supaya tidak usah diminum (dibeli di apotek).

Setengah bulan minum ramuan dari pak Juanda, aku tidak percaya kalau penyakitku berangsur-angsur sembuh. Buktinya sebelum aku minum obat, hampir setiap hari aku sakit pusing, perut mau muntah, dan mata selalu kabur untuk melihat. Namun setelah meminum hampir setengah bulan saja, sepertinya ada perubahan-perubahan yang sangat aneh. Badan terasa lebih segar dari sebelumnya, perut sudah jarang mules-mules, kepala juga jarang kumat, mata untuk melihat malahan lebih terang.

Karena adanya perubahan yang banyak tersebut, aku putuskan untuk meneruskan terapinya tersebut. Hingga akhirnya aku putuskan untuk meminum ramu-ramuan dari pak Juanda selama minimal tiga bulan dulu. Setelah tiga bulan aku akan periksa laboratorium mengenai hasil terapi tersebut.

Menginjak bulan pertama terapi, aku juga sudah banyak mengalami perubahan-perubahan yang sangat banyak. Kalau setengah bulan sebelumnya sudah tidak banyak kumat, namun sebulan kemudian dalam sehari tidak tentu. Kadang kumat kadang tidak, badan juga terasa segar bugar dan sepertinya sehat walafiat. Hingga akhirnya setelah tiga bulan menjalani terapi, aku beranikan diri untuk menjalani pemeriksaan lab. Hasilnya diluar dugaan, ternyata aku dinyatakan negatif terhadap penyakit Toxo tersebut. Aku jadi tidak menyangka kalau sebelumnya aku merasa ragu untuk beralih ke pengobatan alternatif, namun ternyata setelah menjalani terapi malah penyakitku sudah sembuh.

Meskipun penyakitku sudah sembuh, bukan berarti aku berhenti menjalani terapi, namun juga tetap meminum ramu-ramuan dari pak Juanda, hingga mencapai bulan ke 5. Ini aku lakukan dengan harapan penyakit yang aku derita benar-benar sudah sembuh dan tidak kambuh lagi. Untuk pencegahan penyakit tersebut ke seluruh keluargaku, maka aku putuskan juga untuk memeriksakan anak dan istriku ke Lab. Hasilnya sungguh diluar dugaan, sebelumnya aku ragu, jangan-jangan seluruh keluargaku terkena Toxo, namun hasilnya malah sebaliknya, anak dan istriku negatif terhadap Toxo.


Anakku Autisme Karena Toxo
(Alif Rizky Gunawan)

Setelah kelahiran anakku, Alif Rizky Gunawan tahun 1997 lalu ternyata membawa berkah seluruh keluargaku. Aku (sebut saja Farida, ibu Alif) merasakan kesenangan yang tidak bisa terbayangkan. Meski Alif lahir prematur tepatnya pada usia 8 bulan, karena keburu pecah ketubannya, ternyata kehalirannya juga tidak menampakkan hal-hal yang mencurigakan dan dapat hidup secara normal-normal saja, khususnya awal-awal bulan. Tepatnya Alif berkembang seperti layaknya bayi lain, hingga usia sekitar 18 bulan.

Namun menginjak usia ke-18 bulan, sepertinya Alif memperlihatkan ada sesuatu yang kurang wajar dalam perkembangannya. Tidak seperti anak-anak lain pada usia tersebut sudah bisa dipastikan ada perkembangan-perkembangan yang layak seperti sudah mulai belajar bicara, sudah bisa jalan dan perkembangan lainnya. Namun untuk Alif pada usia 18 bulan ini belum ada tanda-tanda bisa berjalan ataupun bisa belajar bicara. Aku dan mas Pungky (panggilan akrab suamiku-Ket) merasakan ada sesuatu yang tidak wajar.


Karena penasaran aku dan mas Pungky mencoba memeriksakan Alif ke salah satu dokter anak di Kalimantan. (Kebetulan waktu itu mas Pungky ditugaskan di salah satu BPN di kota Kalimantan) Begitu ketemu dokter anak tersebut, aku mencoba mengutarakan permasalahan yang kuhadapi. Namun setelah kusampaikan permasalahan tersebut, jawaban dokter sungguh membuat aku dan mas Pungky tidak habis pikir. “Dibiarkan saja, nantikan kalau sudah waktunya bisa jalan sendiri, memang pertumbuhan Alif sepertinya ada keterlambatan,” tutur dokter tersebut.

Awalnya aku dan mas Pungky mencoba untuk bersabar dan menuruti saran dokter namun setelah ditunggu-tunggu beberapa waktu, Alif tetap tidak bisa jalan. Bahkan orang tuaku mengetahui kalau cucunya ada masalah, lewat telepon menyarankan untuk memeriksakan Alif ke dokter spesialis anak di RS Sardjito, Jogja. Karena inginnya Alif bisa berkembang normal dan kebetulan mas Pungky dinasnya dipindah ke BPN Klaten, maka saran orang tuaku langsung saja aku turuti.

Kesimpulan dari hasil pemeriksaan ke RS Sardjito tersebut, disarankan untuk periksa TORCH. Aku dan mas Pungky juga tidak atau apa itu penyakit TORCH, hingga anakku harus periksa penyakit tersebut. Namun lagi-lagi demi kesembuhan anakku saran dokter tersebut aku turuti juga. Hasilnya diluar dugaan, ternyata anakku positif terkena TORCH. Bahkan hasil pemeriksaan penyakit tersebut sudah merusak otak sebelah kiri. Buktinya setelah disinar kelihatan bercak-bercak putih.

Karena sudah positif terkena TORCH tersebut, maka diputuskan oleh dokter supaya anakku menjalani perawatan secara intensif. Dibawah pengawasan salah satu dokter tersebut, anakku selama tiga hari diberi cairan infus. Setelah mendapatkan perawatan seminggu, Alif menunjukkan ada kemajuan. Untuk memastikan apakah TORCH tersebut sudah sembuh apa tidak, maka disarankan untuk uji lab lagi. Hasilnya hanya turun 5 saja dari yang sebelumnya 274 IGG menjadi 269 IGG. Mondok beberapa hari dengan biaya sudah sekitar Rp 3 juta, meskipun harus diinfus (ditusuk –tusuk jarum) namun penyakit TORCH-nya sudah turun 5 untuk beberapa waktu perasanku agak lega maka diputuskan untuk dibawa pulang karena sepertinya Alif sudah sembuh.

Sepulang dari rumah sakit, ternyata Alif menunjukkan beberapa kemajuan yang aku dan mas Pungky sampai geleng-geleng kepala. Ternyata Alif menjadi anak yang hiperaktif, tidak bisa diam, maunya harus diperhatikan, kalau minta sesuatu harus diberikan bila tidak diberi ngamuk-ngamuk. Pokoknya sepertinya menjurus ke tingkah laku yang autisme. Aku dan mas Pungky dibuat kelabakan menghadapi perkembangan Alif seperti itu. Tidak disangka kalau perkembangan Alif malah bisa sebaliknya. Dulu agak terlambat, namun sekarang malah semuanya serba over. Namun anehnya, dalam sebulan Alif sering demam, panas bahkan dalam sebulan bisa tiga kali terkena demam.

Karena seringnya terkena penyakit tersebut, aku dan mas Pungky mencoba memeriksakan Alif ke dokter lagi. Hasilnya tetap sama hanya diberi obat vitamin dan antibiotik saja. Cuman masalahnya, dari saran dokter mengatakan kalau ingin anaknya sembuh harus mondok lagi. Padahal aku sebagai ibunya tidak tega melihat penderitaan Alif ketika di rumah sakit. Hati ini seperti teriris-iris bila melihat harus diinfus dan melihat tusukan-tusukan jarum di sekujur tubuhnya. Aku terus terang saja, tidak mentholo melihat kenyataan tersebut, pikirku waktu itu.

Karena tidak tega tersebut, aku dan mas Pungky mencoba mencari alternatif lain, siapa tahu Alif bisa sembuh namun tidak dengan pengobatan dokter. Maka dicobanya mencari informasi ke sana kemari. Bahkan tidak segan-segan mencoba mendatangi pengobatan alternatif, namun hasilnya tetap saja tidak ada perubahan. Ketika dalam kebingunan tersebut, secara tidak sengaja ketika berkunjung ke salah satu saudaraku, membaca sebuah majalah wanita, mengenai penyembuhan alternatif penyakit TORCH (Toksoplasmosis, Rubella, CMG, dan Herves) yang ditangani oleh Ir A Juanda dari Bogor. Yang kebetulan mengadakan praktek pengobatan di Jogja.

Singkat cerita, setelah kusampaikan permasalahan anakku yang terkena TORCH tersebut, disarankan untuk menjalani terapi penyembuhan dengan meminum ramu-ramuan dari pak Juanda tersebut. Ramuan pak Juanda supaya diminum sehari sekali pada pagi hari dicampur dengan madu dan tidak boleh dicampur dengan susu. Namun sayangnya setelah dicobakan untuk diminum oleh Alif ramuan tersebut, sepertinya perut Alif tidak mau menerima. Setiap kali minum langsung muntah-muntah. Meskipun dilarang oleh pak Juanda, maka aku mencoba dicampur dengan susu. Siapa tahu bisa masuk dan tidak muntah-muntah.

Pada bulan-bulan pertama menjalani terapi oleh pak Juanda, Alif sepertinya tidak ada tanda-tanda kesembuhan. Bahkan kelihatan seperti tidak ada perubahan sama sekali. Karena penasaran maka aku mencoba konsultasi dengan pak Juanda, kenapa setelah meminum ramuan pak Juanda selama sebulan tidak ada perubahan yang drastis. Pak Juanda juga merasa heran kenapa Alif tidak ada perubahan. Padahal menurut pak Juanda segala saran-sarannya sudah dipenuhi. Cuma ada satu yaitu untuk meminumnya jangan dicampur dengan susu terus terang saja tidak aku sampaikan ke pak Juanda. Aku takut kalau disalahkan. Pak Juanda juga sepertinya bertanya-tanya ada apa kok, sudah berjalan sebulan tidak ada perubahan?

Memasuki bulan kedua, meskipun tidak ada perubahan yang sangat berarti, aku berspekulasi untuk tetap memberikan ramuan ke Alif. Hingga memasuki pada bulan ketiga, sepertinya ada tanda-tanda perubahan pada anakku. Begitu aku sampaikan ke pak Juanda, dia (pak Juanda) merasa syukur ternyata ramuannya ada gunanya. Hingga memasuki pada bulan keempat, ternyata Alif sudah menunjukkan perilaku bertolak belakang dengan empat bulan lalu. Aku dan mas Pungky dibuat heran, kenapa Alif ada perubahan yang sangat mencolok sekali. Dulu tiap harinya selalu bertindak yang merepotkan orang tua, hiperaktif, tidak bisa diam, maunya harus diperhatikan, kalau minta sesuatu harus diberikan bila tidak diberi ngamuk-ngamuk. Pokoknya sepertinya menjurus ke tingkah laku yang autisme. Sekarang kelihatan lebih pendiam, tidak mudah marah-marah, mau belajar ngomong, mau dinasehati.

Mendapati perubahan tersebut, aku mencoba konsultasi ke pak Juanda lagi, disarankan pak Juanda untuk periksa lab lagi. Setelah uji lab, sungguh diluar dugaan, ternyata TORCH sudah negatif. Pak Juanda langsung kuberitahu kalau Alif sudah negatif. Setelah pasti kalau Alif negatif, maka aku baru cerita ke pak Juanda kalau selama ini ada satu pantangan pak Juanda yang aku langgar, yaitu ketika meminum ramuan pak Juanda ditambahi susu. Pak Juanda juga kaget, “Bener reaksinya sangat lambat, baru empat bulan ada perubahan, karena selama ini meminumnya dicampur susu. Padahal saran saya, jangan dicampur dengan susu. Coba kalau tidak dicampur saya jamin belum dua bulan pengobatan sudah ada perubahan,” tutur Pak Juanda waktu itu. Akupun hanya diam saja, benar juga saran pak Juanda tersebut. Namun kalau tidak dicampur Alif tidak mau minum.

Setelah menjalani terapi selama empat bulan, Alif sudah bisa nyanyi, menirukan iklan-iklan di televisi, menghafal abjad A-Z dan menghitung 1-10. Bahkan cara merespon sesuatu bisa dengan cepatnya. Sekeluarga juga merasa senang mendapati perkembangan Alif sudah normal seperti teman-teman seusianya.

Setelah Alif benar-benar sembuh dan dinyatakan negatif terhadap TORCH, aku jadi penasaran tentang penyakit TORCH tersebut. Karena penasaran tersebut, aku mencoba mencari jawabnya. Setelah tahu, aku dibuat tidak percaya, ternyata TORCH termasuk salah satu penyakit yang ditimbulkan oleh virus binatang piaraan. Aku mencoba mengingat-ingat, kalau Alif terkena TORCH itu kira-kira penyebabnya apa. Setelah ditelusuri ternyata dapat dipastikan kalau TORCH berasal dari burung yang dipelihara kakek Alif (orang tuaku).

Ternyata virus TORCH yang disebabkan oleh binatang piaraan seperti kucing, kambing, burung, merpati secara langsung atau tidak langsung (lewat perantaraan) bisa menular ke manusia. Salah satu buktinya adalah Alif anakku. Aku ceritakan kalau dulu kakek memang senang memelihara burung jumlahnya 4 ekor, kalau siang burung tersebut ditaruh di luar rumah, namun kalau malam hari burung ditaruh di ruang makan yang sekaligus sebagai ruang keluarga. Nah kalau malam hari itulah, ketika burung-burung mengepakkan sayapnya secara langsung menyebarkan virus TORCH ke seluruh isi keluarga termasuk Alif. “Benar saja, kalau selama ini keluargaku setiap malam pesta virus TORCH,” pikirku waktu itu.

Untuk memastikan kalau virus TORCH tidak hanya menyerang kepada anakku saja, maka diputuskan aku, mas Pungky dan orang tuaku serta saudara-saudaraku memeriksakan diri ke dokter. Hasilnya sungguh luar biasa, ternyata hampir seluruhnya positif terkena TORCH. Karena positif itulah, maka hingga saat ini, keluarga kami secara teratur meminum ramu-ramuan dari pak Juanda. Meskipun tiap bulan harus menyisihkan sebagian uang untuk membeli ramuan tersebut, namun bagaimanapun juga kesehatan lebih penting. Jelasnya hingga saat ini, tidak hanya Alif saja yang meminum ramuan pak Juanda, namun juga aku dan mas Pungky (suamiku). Bahkan orang tuaku juga sepertinya juga akan ikut-ikutan meminum ramuan tersebut.

Karena dendamnya dengan burung penyebar virus TORCH tersebut, maka diputuskan oleh orang tuaku, burung-burung tersebut harus dimusnahkan. Dan syukurlah hingga saat ini keluargaku sudah tidakk pesta virus TORCH lagi, dan mudah-mudahan aman.